Judul: Amangkurat: Cinta Semerah Darah
Penulis: Ade Mulyono
Ukuran Buku: 13 x 20 | 213 hlm.
Kategori:Kumpulan Cerpen
ISBN 978-634-251-134-3
ISBN 978-634-251-135-0 (PDF)
Tahun: 2026
Buku ini merupakan kumpulan kisah berlatar sejarah Kerajaan Mataram Islam yang merangkai tragedi, intrik politik, pengkhianatan, dan romansa berdarah yang menyelimuti dinasti Mataram, khususnya pada masa kekuasaan Susuhunan Amangkurat I hingga penerusnya. Narasi buku ini menyoroti sisi kelam kekuasaan di mana cinta sering kali harus dibayar dengan nyawa dan takhta dipertahankan dengan kekejaman.
Kisah-kisah di dalamnya menelusuri jejak darah yang mewarnai tanah Jawa, mulai dari dendam pribadi raja hingga peperangan besar yang meruntuhkan keraton.
Poin-Poin Kisah Penting
1. Kekejaman dan Obsesi Amangkurat I Bagian awal buku menyoroti watak keras Susuhunan Amangkurat I. Dikisahkan bagaimana ia menyimpan dendam kesumat terhadap Tumenggung Wiroguno karena masalah asmara di masa lalu, yang berujung pada pembunuhan sang Tumenggung. Buku ini juga menceritakan obsesi Amangkurat yang gila hormat dan gila wanita, termasuk kisah tragis Ratu Malang dan Retno Gumilang (Ratu Wetan) yang kematiannya membuat sang Raja kehilangan akal sehatnya hingga tidur dengan mayat istrinya.
2. Tragedi Cinta Roro Oyi Salah satu kisah paling memilukan adalah cinta segitiga antara Amangkurat I, putranya (Pangeran Adipati Anom), dan Roro Oyi. Amangkurat menitipkan Roro Oyi saat masih kecil untuk dijadikan istri ketika dewasa. Namun, Pangeran Adipati Anom jatuh cinta dan menikahi Roro Oyi. Murka karena merasa dikhianati, Amangkurat I memaksa putranya sendiri untuk membunuh Roro Oyi dengan tangannya sendiri sebagai bukti kesetiaan dan syarat mempertahankan status putra mahkota.
3. Pemberontakan dan Jatuhnya Plered Dendam akibat kematian Roro Oyi memicu Adipati Anom (kelak Amangkurat II) bersekongkol dengan Raden Trunojoyo untuk menggulingkan ayahnya. Namun, aliansi ini pecah. Trunojoyo justru menghancurkan Keraton Plered, membuat Amangkurat I melarikan diri hingga tewas di pelarian. Amangkurat II kemudian terpaksa meminta bantuan VOC untuk merebut kembali kekuasaannya, sebuah keputusan yang ditentang keras oleh banyak adipati.
4. Kepahlawanan dan Prinsip Buku ini juga mengangkat tokoh-tokoh yang memegang teguh prinsip, seperti Tumenggung Martoloyo dari Tegal. Ia menolak tunduk pada keputusan Amangkurat II yang bekerja sama dengan VOC (Kompeni), memilih untuk dianggap membangkang dan bertarung melawan saudara seperguruannya sendiri demi kehormatan tanah Jawa.
5. Kilas Balik Sejarah Mataram Selain era Amangkurat, buku ini juga menyajikan kisah-kisah fondasi Mataram dan Pajang, seperti siasat cerdik Ki Juru Martani dan Sutawijaya dalam mengalahkan Arya Penangsang dan keris sakti Setan Kober , serta peristiwa meletusnya Gunung Merapi yang membantu Mataram mengalahkan pasukan Pajang di bawah Sultan Hadiwijaya.
"Amangkurat: Cinta Semerah Darah" menggambarkan bahwa sejarah kekuasaan di tanah Jawa tidak hanya ditulis dengan tinta emas, tetapi juga dengan darah dan air mata. Ambisi, hawa nafsu, dan dendam para penguasa sering kali menuntut tumbal nyawa orang-orang terkasih, menjadikan cinta sebagai sisi paling rapuh sekaligus paling mematikan dalam lingkaran istana.